Hanya seorang perempuan yang sangat-sangat biasa yang dengan sangat-sangat beraninya pula mencintaimu apa adanya.
Hanya seorang perempuan yang sedang memantaskan diri untuk berada disampingmu pada akhirnya.
Hanya seorang perempuan yang berusaha menjadi yang terbaik agar bisa membuatmu bangga.
Bolehkah aku?
Bisakah aku?
Kejujuran ini tulus. Ketulusan ini jujur. Jiwaku masih tak menentu kemana ku harus berlabuh. Ragaku masih berpura-pura kuat agar tak terlihat rapuh. Siapa aku yang dengan congkaknya menginginkan rengkuhanmu untuk jiwaku berteduh. Siapa aku yang dengan angkuhnya meminta dekapanmu agar ragaku kembali kukuh. Tapi entah. Kaki ini memang masih tak beraturan dalam melangkah. Namun hati ini menginginkan rumah. Mata ini selalu memandang ke satu arah. Telah ku coba untuk membohongi diri, tapi tampaknya semesta tak menyetujui.
Jika memang kesongonganku dalam memasangkan kau dan aku di satu ikatan doa dalam setiap sujudku menjadi kenyataan, akan kujadikan tulisan ini sebagai hadiah yang ku jamin tak akan pernah bisa kau lupakan.
Semarang, 15 Desember 2015, pukul 20:15
Backsound: Izzatul Islam-Doa Rabithah.