0
Terima Kasih
Posted by Langit Senja
on
6:59 PM
Tulisan ini ditujukan buat tanggal 26 Mei mendatang sebenarnya. Tapi yah.. ide dan mood nulisnya munculnya sekarang, aku bisa apa~
21 tahunku sebentar lagi. 21 tahun aku hidup. 21 tahun aku melewati masa-masa yang terang maupun redup. Aku ingin berterima kasih kepada diriku sendiri yang telah mampu berubah dan menjadi lebih terarah.
Terima kasih pertama, terima kasih karena telah mampu melawan rasa takutmu untuk berbaur dengan teman-temanmu. Ya. Dulu aku korban bullying; salah satu alasan mengapa aku masuk ke jurusan Psikologi. Aku takkan berbicara tentang bagaimana aku di-bully. Aku ingin bercerita tentang bagaimana aku melewati semua itu hingga aku bisa berani berdiri sendiri, disini.
Dulu, aku orang yang tak bisa apa-apa jika tanpa teman; dampak dari luka pem-bully-an masa lalu. Dulu, aku anak rantau yang payah. Walaupun sudah biasa jauh dari rumah, walaupun kata orang aku orangnya supel, gampang punya banyak teman, tapi untuk menjadikannya sahabat, itu tidak mudah. Dulu, aku milih-milih dalam berteman. Pemilih dalam artian, aku terlalu takut untuk tidak mendapatkan teman, sehingga ketika telah menemukan yang cocok, aku mengabaikan orang yang mau berteman tulus denganku; kesalahan pertama di awal-awal hari merantauku. Aku menyerahkan kesalahan itu kepada luka ku di masa lalu. Menyalahkan kepada kenangan pem-bully-an itu atas kelakuanku.
Dulu, ketika ada tugas kelompok di kelas, aku orang yang (mungkin) menyebalkan untuk anggota kelompok lainnya. Kontribusiku tak banyak, dan kecanduan main gadget. Lagi-lagi, aku menyerahkan kesalahan itu kepada luka ku; penyebab dari semua perilaku negatifku. Aku menyadari hal itu, tapi aku tak bisa berbuat banyak karena aku masih terbelenggu dengan rasa takutku sehingga aku berteman terlalu dekat dengan gadgetku. Aku takut salah. Aku takut dibenci karena aku melakukan kesalahan dalam mengerjakan tugas, dan ketakutan-ketakutan sejenis itu yang membuatku pasif dalam kerja kelompok.
Pun di organisasi. Sejatinya aku bukanlah tipe orang yang 'ingin sibuk'. Aku tipikal yang santai. Slow dalam menjalani hidup. Aku tak terlalu suka keramaian. Aku membenci kebisingan. Namun ada saatnya aku menginginkan keramaian itu. Singkatnya, aku ambivert; introvert iya, ekstrovert juga iya. Dan bisa ditebak, aku hanya dekat terhadap orang-orang tertentu saja.
Dulu, aku 'ditampar' oleh seseorang dengan perkataannya. Ia mengatakan,"berbaur dek!". Mungkin bagi kalian itu adalah kalimat yang biasa saja. Tapi bagiku, itu berbeda. Ia memerintahku tanpa tahu bagaimana usahaku untuk mencapai titik itu. Aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Orang yang kuharapkan bakal bisa menjadi senderanku pun ternyata hanya bisa menyuruh tanpa pernah bisa mengerti. Namun, sedikit banyak ia berpengaruh terhadap perubahanku (mungkin aku juga harus mengucapkan terima kasih kepadanya). Karena dia, aku belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan memilih senderan yang seperti dia. Aku menggantungkan seluruh kebahagiaanku di tangannya. Dan ia perlahan-lahan mengikis kebahagiaanku dengan pedang di lidahnya. Seperti kata pepatah lama, pengalaman adalah guru terbaik. Sekarang aku tak pernah lagi berani menggantungkan kebahagiaanku kepada orang lain; dan ini menjadi ketakutanku yang baru di masa sekarang.
Otakku mengatakan bahwa aku tak bisa jika seperti ini terus. Lalu pelan-pelan otakku menyelaraskan kemauannya dengan tubuhku. Tubuhku memaksaku untuk bisa keluar dari lingkaran setan itu. Dan secara pelan-pelan pula, aku mulai menikmati prosesnya. Aku berdamai dengan luka ku, berdamai dengan kesalahanku, berdamai dengan diriku. Aku tak tahu apa yang dirasakan oleh teman-temanku sekarang, tapi yang jelas, sekarang aku sendiri merasakan perubahannya. Aku lebih aktif didalam tugas kelompok, aku lebih 'ramai' di organisasi, aku merasa lebih 'hidup' dari tahun-tahun sebelumnya, meskipun rasa takut itu masih ada. Ada benarnya ketika para dosen mengatakan bahwa kuliah di jurusan Psikologi sekalian berobat jalan. Aku, memang sedang dalam tahap 'penyembuhan'. Penyembuhan untuk luka-luka ku di masa lalu. Untuk akhirnya bisa sampai pada tahap itu, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, wahai diriku. Hanya kau dan Tuhan yang tahu bagaimana proses jatuh-bangunnya kamu.
Terima kasih kedua, terima kasih karena telah menyayangi dirimu sendiri. Terima kasih untuk tetap berusaha menjaga kesehatan (walau bandel-bandel dikit ngelanggar pantangan), dan terima kasih untuk tetap berusaha... Hidup. Terima kasih.
Kau, sudahkah berterima kasih kepada dirimu?

Posting Komentar